Zona Waktu
Potongan-potongan episode bergerak memutar memori dikepala. 365 hari yang kau takutkan di setiap tahun telah berlalu bergerak menurut porosnya. Lihatlah, bukankah kau baik-baik saja? Tak sedikitpun kekhawatiranmu melukai dirimu. Kau temukan dirimu yang lebih berani dari apa yang engkau sangka. Lebih kuat dari yang kau kira. Lebih jenius dari apa yang pernah engkau pikirkan.
Bahwa yang kau anggap tidak mungkin itu hanya prasangkamu saja.
Bahwa kita hanyalah jasad yang digerakan olehNya, kehendaNya tak dapat kau raba tapi selalu bisa kau jalani. Maka berusahalah karena Tuhanmu tak pernah membiarkanmu sendiri. Seringkali dugaanmu menyurutkan langkah untuk terhenti. Setiap kita adakalanya merasakan keletihan dan kejenuhan untuk berdiri tegap.
Adanya jeda mungkin Tuhan ingin menyaksikan segala usaha yang dikerah, bahwa kita tak putus asa. Terus berusaha. Merangkai setiap doa. Tak berputus harapan, hanya karena satu doa belum terwujudkan. Sadarkah selain yang satu itu telah banyak doa yang dikabulkan bahkan memberikan apa yang belum sempat terangkai dalam doa pun Ia berikan.
Setiap orang di dunia ini berlari di jalur perlombaannya masing-masing. Seseorang menjadi CEO di usia 20 dan meninggal di usia 50. Saat yang lain menjadi CEO di usia 50 dan meninggal di usia 95 tahun. Seseorang bisa mencapai banyak hal dengan kecepatannya masing-masing. New York 3 jam lebih awal dari California tapi itu tak berarti california lambat, atau New York lebih cepat. Diantara keduanya bekerja sesuai dengan Zona Waktunya masing-masing. Setiap orang bekerja sesuai Zona Waktunya masing-masing.
Tidak ada yang terlambat atau terlalu cepat. Maka bekerjalah sesuai dengan Zona Waktumu masing-masing.
Berdamailah, karena sungguh dirimu itu paling membutuhkan kelembutanmu. Agar Tuhan menyaksikan kesungguhanmu, tak patah harapan.
Berdamailah, karena sungguh dirimu itu paling membutuhkan kelembutanmu. Agar Tuhan menyaksikan kesungguhanmu, tak patah harapan.
Oleh : Ajeng Dwi Nurani

0 comments