Hati yang lapang
Setiap harinya kita belajar untuk dapat menyikapi hidup dengan baik
Bukan mengendalikan segalanya harus menjadi baik. Membahagiakan itu, ketika dimampukan melihat kebaikan disetiap orang maupun kejadian. Lalu, mengambilnya pelajaran. Si pemilik hati baik sangka bukan karena semua baginya sempurna dan tampak suci tanpa cela, melainkan ia menjadikan segala sesuatunya sebagai kebaikan saja.
Tuhan tak syaratkan kita harus dikenal barulah usaha kita dianggap sebagai kebaikan,tak harus dikenang sepanjang masa. Diterimakasihi tiada kira. Ataupun disanjung. Kebaikan bernilai kebaikan dalam penilaian-Nya. Tanpa perlu pengakuan insan, walau memilih jalan sunyi. Walaupun sebatas menyingkirkan duri ditengah jalan, menyeka air mata seseorang yang hampir terjatuh, memberi tanpa diketahui tangan kiri ataupun menyambung kawan pada seseorang yang kemudian dengannya memberikan kenyamanan. Balasan-Nya tiada batas.
Hati yang lapang ialah tempatnya rasa bahagia. Menerima dulu, baru teruskan perjuangan
Karena yang membuat kita bahagia bukan hanya berbentuk materi. Tetapi rasa. Hati yang lapang menerima ketidaksesuaian, kegagalan, keterbatasan ataupun penyesalan.
Lalu, darimana datangnya penerimaan? ia tak hanya pemberian-Nya. Melainkan juga gerak hati yang terus mencoba mencari kebaikan. Disetiap apa, siapa, kapan.
Yang datang kepadaNya. Tak pernah Ia balas dengan hampa. Selalu dengan cinta yang menyemesta.
Oleh : Ajeng Dwi Nurani
06 Maret 2019


0 comments