Menepi Sejenak
Pada jarak tertentu, kita perlu menepi
Bukan karena menyerah, bukan karena melelah
Bukan. Ini bukan tentang keduanya
Namun ada yang lebih berarti.
Karena, tahukah?
Bahwa ada hal-hal tertentu yang tak mampu kau mengerti
Tapi hanya bisa diikuti. Seperti kata hati.
Sebagian orang mungkin akan berkata,
"Ah, dasar kau makhluk baper, dasar kau lembek"
dan lain sebagainya. Sumpah serapah juga kadang diucap
karena kekesalan, ketidaksesuaian, kekecewaan
akan inginnya yang tak terealisasi.
Memang. Memang begitu adanya. Sudah kodratnya manusia
menuntut kesempurnaan. Seringkali kita menilai ukuran rasa
hanya dari sabatas akal, padahal tempatnya rasa ada pada hati.
Lalu, dimana salahnya?
Kita seringkali menyalahkan fatwa hati sebagai kelemahan, kecengengan
padahal antara hati dan akal harusnya berjalan bersamaan
seringkali pula kita tertipu oleh dorongan syahwat, sedangkan kita mengira
hal tersebut merupakan manifestasi iman.
Itulah mugkin kenapa Nabi pernah berkata.. "Mintalah fatwa pada hatimu,
mintalah fatwa pada hatimu, mintalah fatwa pada hatimu".
Akan tetapi banyak diantara kita tertipu, mengira semua tuntunan hati
padahal hanya bisikkan syahwat.
Suatu hari, guruku pernah berpesan..
"Nak, syaithan itu tidak pernah lelah menggoda manusia untuk mengikutinya
sampai pada hari akhir yang telah ditentukanNya. Maka berhati-hatilah
terhadap tindakan, ucapan dan segala yang kau lakukan di muka bumi,
mungkin saja kita mengira kita telah berbuat benar, padahal nyatanya
hal tersebut merupakan bagian dari syahwat diiringi teriakan syaithan
yang menghasut".
Untuk semua yang akan ku tuliskan ini,
aku jadikan pertama-tama sebagai teguran untuk diriku sendiri
karena banyak dari kita salah memaknai.
Setiap manusia memang dicipta berbeda. Karenanya,
kita tak sedang bersaing dengan siapapun, kita tak sedang merasa
tak terkalahkan.
Karena kita semua adalah makhluk Tuhan,
bukan makhluk yang berperan sebagai Tuhan.
Oleh : Ajeng Dwi N
06 April 2019


0 comments