People Perceiving

by - April 11, 2019



Bayangkan : Seorang anak kecil tanpa alas kaki berjualan koran di sepanjang jalan ibu kota
Pengendara A membatin : “Kemana orang tuanya?! Masa anak sekecil ini dibiarkan di jalanan panas-panas begini, bukannya sekolah.

Pejalan kaki B : “Ini anak kecil kucel banget kaya gak pernah mandi, udah gitu siang-siang gini kelayapan bawa-bawa koran sendirian”

C : “ Pasti anak kecil ini disuruh oknum buat jualan, nanti uangnya buat beli rokok atau kumpul-kumpul anak jalan gak jelas”

D : “ Ya ampun itu anak kecil kasihan banget, keliling-keliling jualan koran sendirian. Salut banget.

E : “Kecil-kecil udah bisa ngerasain susahnya cari uang. Mungkin keluarganya ada yang lagi sakit atau apa kali ya..”

Dan, tanpa tahu apa-apa isi kepala orang disekitarnya si anak berkata dengan luguh dalam hatinya “ Ini kok koran belum ada yang beli ya, padahal udah mau sore”.


Dari kisah diatas kita bisa membuktikan bahwa dalam satu fenomena akan menghasilkan berbagai macam versi pemikiran sebanyak jumlah kepala yang menyaksikannya. Dengan cara berpikir yang berbeda dan sudut pandang yang berbeda pula. Tapi, si anak dengan santainya tidak terbebani dengan sedikitpun prasangka dari isi kepala orang-orang yang memandangnya. Bahkan dia tidak tertarik sedikitpun untuk mungkin bertanya ; “Menurutmu aku gimana” atau “Bagus gak sih aku”.


Anak itu adalah kita di satu atau banyak titik dalam timeline kehidupan. Cuek dan apa adanya. Seorang aktor atau model Internasional sekalipun punya suatu momen dimana dia tidak memainkan peran apapun, atau tertuntut tampil sempurna dari busana hingga gaya bicara. Ada satu dimensi dalam diri yang bahkan orang-orang terdekat sekalipun tidak akan pernah bisa menjamah dan masuk kedalam ranahnya, apalagi mengetahui hakikatnya.


Dinding-dinding tersebut ada pada diri orang lain pula. Apa yang ada dibaliknya, yang sama sekali kita tidak dapat menjamahnya. Mungkin berupa rasa sakit, cinta mendalam, ketakutan, harapan, dan sebagainya. Karena hanya dia dan Tuhannya yang tahu. 
Maka, tahanlah prasangkamu.



Oleh : Ajeng Dwi N

You May Also Like

0 comments

Time Heals Nothing

Kita memilih berteman dengan kesibukan karena ada luka yang ingin kita sembuhkan. Waktu membuat kita percaya bahwa dia mampu menyembuhk...