People Perceiving
Bayangkan : Seorang
anak kecil tanpa alas kaki berjualan koran di sepanjang jalan ibu kota
Pengendara A membatin :
“Kemana orang tuanya?! Masa anak sekecil ini dibiarkan di jalanan panas-panas
begini, bukannya sekolah.
Pejalan kaki B : “Ini
anak kecil kucel banget kaya gak pernah mandi, udah gitu siang-siang gini
kelayapan bawa-bawa koran sendirian”
C : “ Pasti anak kecil
ini disuruh oknum buat jualan, nanti uangnya buat beli rokok atau kumpul-kumpul
anak jalan gak jelas”
D : “ Ya ampun itu anak
kecil kasihan banget, keliling-keliling jualan koran sendirian. Salut banget.
E : “Kecil-kecil udah
bisa ngerasain susahnya cari uang. Mungkin keluarganya ada yang lagi sakit atau
apa kali ya..”
Dan, tanpa tahu apa-apa
isi kepala orang disekitarnya si anak berkata dengan luguh dalam hatinya “ Ini kok koran belum ada yang beli ya,
padahal udah mau sore”.
Dari kisah diatas kita
bisa membuktikan bahwa dalam satu fenomena akan menghasilkan berbagai macam
versi pemikiran sebanyak jumlah kepala yang menyaksikannya. Dengan cara
berpikir yang berbeda dan sudut pandang yang berbeda pula. Tapi, si anak dengan
santainya tidak terbebani dengan sedikitpun prasangka dari isi kepala
orang-orang yang memandangnya. Bahkan dia tidak tertarik sedikitpun untuk
mungkin bertanya ; “Menurutmu aku gimana”
atau “Bagus gak sih aku”.
Anak
itu adalah kita di satu atau banyak titik dalam timeline kehidupan. Cuek dan
apa adanya. Seorang aktor atau
model Internasional sekalipun punya suatu momen dimana dia tidak memainkan
peran apapun, atau tertuntut tampil sempurna dari busana hingga gaya bicara. Ada satu dimensi dalam
diri yang bahkan orang-orang terdekat sekalipun tidak akan pernah bisa menjamah
dan masuk kedalam ranahnya, apalagi mengetahui hakikatnya.
Dinding-dinding
tersebut ada pada diri orang lain pula. Apa yang ada dibaliknya, yang sama
sekali kita tidak dapat menjamahnya. Mungkin berupa rasa sakit, cinta mendalam,
ketakutan, harapan, dan sebagainya. Karena hanya dia dan Tuhannya yang tahu.
Maka, tahanlah prasangkamu.
Maka, tahanlah prasangkamu.
Oleh : Ajeng Dwi N


0 comments