Sesederhana itu

by - April 22, 2019



Di luar sana orang-orang memiliki beragam keinginan :

Barang branded dengan harga 6 digit di belakang, liburan keliling eropa, merayakan suatu pesta di kapal pesiar, menonton live konser, dan masih banyak lagi.



Jika ditanya. “ Kamu mau apa?”  Sudah bukan tidak mungkin lagi, aku akan menjawab “Mengurung diri di kamar”. Tidak ingin berinteraksi dengan siapapun, tidak berbicara pada siapapun, menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang sempat tertunda, membaca buku yang belum diselesaikan, memeluk guling sambil menyeruput secangkir kopi, dan tidur dengan damai.


Aku masih belum bisa mengerti. Mengapa kata diam selalu dianggap kegiatan pasif. Justru dalam diam bisa menjadi aktif. Karena di dalam diam kamu tidak melamun. "Loh ngapain kamu mengurung diri? Itu kan tidak produktif". Seseorang mungkin akan menjawab senada ini. Paradigma kata diam pun semakin meliar dengan pemaknaan kebisuan yang tak berarti apa-apa. Nyatanya dalam diam kamu sedang menakar, apa hal yang perlu di lontarkan, apa yang tidak pantas untuk dilontarkan. Memilah. Menghubung-hubungkan suatu peristiwa dan menciptakan sebuah pola di kepala hingga membentuk konotasi yang bersifat kemakluman agar tercipta suatu keadaan yang netral dari segala bentuk distraksi. Dalam diam sebetulnya banyak kepekaan terhadap berbagai hal  yang kamu pandang dalam lingkungan. Hanya saja bibir tak ingin berucap, hanya ingin berbuat yang kita anggap sebagai kepedulian.


Tak tahu sejak kapan tepatnya aku menjadi seorang yang mudah lelah ketika berinteraksi dengan banyak orang, berkumpul ramai-ramai di tempat yang bising. Kepala terasa ingin pecah saat dihadapkan dengan peristiwa dalam satu waktu. Buih keringat di pelipis terasa menderas saat banyak orang berbicara, sementara aku mencipta terkaan yang meneriaki dari dalam. Seperti memekik, padahal tidaklah benar adanya. Memang, aku rapuh. Tapi, aku tidak minta untuk dikasihani, sungguh. Aku masih berusaha dan mencari tahu tanpa henti tentang bagaimana caranya menjadi pribadi yang lebih tangguh. 
Sementara ini aku hanya perlu menambahkan dosis ruang personal dan waktu untuk sendiri yang lebih daripada umumnya orang lain. 


Seringkali pula orang-orang terlalu mengibarkan kata-kata, "Mari, kita bicarakan secara baik-baik" Adalah segala bentuk terbaik dari solusi segala persoalan. Tidak. Terlalu berupaya memperbaiki malah bisa menjadi aktivitas yang bersifat destruktif. Entah disengaja ataupun tidak. Kita harus akui bahwa terkadang beberapa hal memang tidak perlu untuk dibicarakan, bahwa pada nyatanya kata-katapun bisa kehilangan maknanya. 


Sekali lagi, aku tak butuh dikasihani ataupun dipahami. Beri saja aku waktu untuk sendiri. Sederhana sekali.




Oleh : Ajeng Dwi N


You May Also Like

4 comments

  1. Hai Ajeng...
    Artikel ini begitu sederhana tapi menamparku, aku suka bilang ngapain diam ya.
    Padahal diam juga produktif.
    Produktif berpikir dan merenung.
    Akan ada saatnya semua itu selesai dan kita bisa kembali beraktivitas dengan lebih baik.

    Terima kasih kakak dan semangat berkarya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Nid. Betul sekali memang tak jarang makna diam di salah artikan sebagai diam karena melamun (pikiran kosong), namun perlu kita garis bawahi disini bahwa diam yang produktif adalah dalam konteks kita berpikir, menyusun pola, merangkai kejadian, memikirkan kembali sebab akibat sebelum melakukan suatu hal.


      Terima kasih kembali. Semangat berkarya juga untukmu, Nid :)

      Delete
  2. Terkadang menyendiri itu perlu loh. Buat berpikir dengan apa yang sudah kita lakukan.

    ReplyDelete

Time Heals Nothing

Kita memilih berteman dengan kesibukan karena ada luka yang ingin kita sembuhkan. Waktu membuat kita percaya bahwa dia mampu menyembuhk...