Sesederhana itu
Di luar sana orang-orang memiliki
beragam keinginan :
Barang branded dengan harga 6 digit di
belakang, liburan keliling eropa, merayakan suatu pesta di kapal pesiar,
menonton live konser, dan masih banyak lagi.
Jika ditanya. “ Kamu mau
apa?” Sudah bukan tidak mungkin lagi, aku akan menjawab “Mengurung
diri di kamar”. Tidak ingin berinteraksi dengan siapapun, tidak
berbicara pada siapapun, menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang sempat
tertunda, membaca buku yang belum diselesaikan, memeluk guling sambil
menyeruput secangkir kopi, dan tidur dengan damai.
Aku masih belum bisa mengerti. Mengapa
kata diam selalu dianggap kegiatan pasif. Justru dalam diam bisa menjadi aktif.
Karena di dalam diam kamu tidak melamun. "Loh
ngapain kamu mengurung diri? Itu kan tidak produktif". Seseorang
mungkin akan menjawab senada ini. Paradigma kata diam pun semakin meliar dengan
pemaknaan kebisuan yang tak berarti apa-apa. Nyatanya dalam diam kamu sedang
menakar, apa hal yang perlu di lontarkan, apa yang tidak pantas untuk
dilontarkan. Memilah. Menghubung-hubungkan suatu peristiwa dan menciptakan
sebuah pola di kepala hingga membentuk konotasi yang bersifat kemakluman agar
tercipta suatu keadaan yang netral dari segala bentuk distraksi. Dalam diam
sebetulnya banyak kepekaan terhadap berbagai hal yang kamu pandang dalam
lingkungan. Hanya saja bibir tak ingin berucap, hanya ingin berbuat yang kita
anggap sebagai kepedulian.
Tak tahu sejak kapan tepatnya aku
menjadi seorang yang mudah lelah ketika berinteraksi dengan banyak orang,
berkumpul ramai-ramai di tempat yang bising. Kepala terasa ingin pecah saat
dihadapkan dengan peristiwa dalam satu waktu. Buih keringat di pelipis terasa
menderas saat banyak orang berbicara, sementara aku mencipta terkaan yang
meneriaki dari dalam. Seperti memekik, padahal tidaklah benar adanya. Memang,
aku rapuh. Tapi, aku tidak minta untuk dikasihani, sungguh. Aku masih berusaha
dan mencari tahu tanpa henti tentang bagaimana caranya menjadi pribadi yang
lebih tangguh.
Sementara ini aku hanya perlu
menambahkan dosis ruang personal dan waktu untuk sendiri yang lebih daripada
umumnya orang lain.
Seringkali pula orang-orang terlalu
mengibarkan kata-kata, "Mari, kita bicarakan secara
baik-baik" Adalah segala bentuk terbaik dari solusi segala
persoalan. Tidak. Terlalu berupaya memperbaiki malah bisa menjadi aktivitas
yang bersifat destruktif. Entah disengaja ataupun tidak. Kita harus akui bahwa
terkadang beberapa hal memang tidak perlu untuk dibicarakan, bahwa pada
nyatanya kata-katapun bisa kehilangan maknanya.
Sekali lagi, aku tak butuh dikasihani
ataupun dipahami. Beri saja aku waktu untuk sendiri. Sederhana sekali.
Oleh : Ajeng Dwi N


4 comments
Hai Ajeng...
ReplyDeleteArtikel ini begitu sederhana tapi menamparku, aku suka bilang ngapain diam ya.
Padahal diam juga produktif.
Produktif berpikir dan merenung.
Akan ada saatnya semua itu selesai dan kita bisa kembali beraktivitas dengan lebih baik.
Terima kasih kakak dan semangat berkarya.
Hai, Nid. Betul sekali memang tak jarang makna diam di salah artikan sebagai diam karena melamun (pikiran kosong), namun perlu kita garis bawahi disini bahwa diam yang produktif adalah dalam konteks kita berpikir, menyusun pola, merangkai kejadian, memikirkan kembali sebab akibat sebelum melakukan suatu hal.
DeleteTerima kasih kembali. Semangat berkarya juga untukmu, Nid :)
Terkadang menyendiri itu perlu loh. Buat berpikir dengan apa yang sudah kita lakukan.
ReplyDeleteSetujuuu..
Delete